Mengunjungi Kampung Lio, Kampung yang Belum Mendapat Listrik PLN di Kab. Sukabumi

Setiap manusia dilahirkan dengan tujuan, potensi dan peran. Dan sudah sewajarnya mereka mampu untuk berdaya dan merdeka sebagai manusia dengan menemukan kombinasi sempurna akan ketiga hal tersebut. Namun tidak semua penduduk Indonesia mampu untuk berdaya, bukan karena tidak mau akan tetapi kondisi lah yang menyebabkan mereka begitu.

Satu hal yang selalu mengganggu kami adalah melihat anak-anak bangsa Indonesia tidak bisa berdaya dan masalah energi menjadi salah satu penyebabnya. Latar belakang itulah yang kemudian menggerakan kami untuk ikut serta memperbaiki kondisi bangsa ini melalui energi.

Isu energi memang menjadi masalah utama didaerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Salah satunya adalah di kampung Lio, Desa Cianaga, Kec. Kabandungan. Sebuah kampung di kabupaten Sukabumi yang dihuni 28 kepala keluarga masih mengalami permasalahan energi. Bahkan kampung yang hanya berjarak kurang lebih 4 jam dari Ibukota Jakarta yang sarat akan perkembangan dan kemajuan teknologi, masih mengalami kesusahan dalam air bersih dan belum ada listrik PLN yang masuk.

Salah satu foto jalan menuju Kampung Lio

 

Tepat pada tanggal 13 Oktober 2017 kami dari Sustainable Energy Movement melakukan perjalanan dari Bandung menuju kampung Lio. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 6 jam. Selain karena jarak yang cukup jauh, akses jalan yang rusak juga menjadi alasan kenapa perjalanan tersebut cukup memakan waktu.  Setelah sekitar 6 jam akhirnya kami sampai di desa Kabandungan, kami memutuskan untuk istirahat disalah satu rumah kakak kelas kami sembari menunggu fajar.

Singkat cerita pada pukul 8 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju kampung Lio dengan mengendarai ojek yang kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki menuju lokasi. Akses menuju kampung Lio memang sedikit sulit, karena jalan yang masih berupa susunan batu dan tanah sehingga tak jarang ketika hujan jalanan menjadi licin dan berpotensi longsor.

Kedatangan kami pun disambut hangat oleh warga disana karena salah satu tim dari SEM yaitu Dwiky sudah beberapa kali datang ke kampung Lio selaku ketua Palapa HME ITB, organisasi pengabdian masyarakat dulu sewaktu masih berstatus mahasiswa S1 ITB. Jadi mudah bagi kami untuk berbaur dan bersosialiasi dengan warga disana. Beberapa cerita tentang kampung Lio dari Palapa HME ITB juga dapat dibaca pada blog berikut ini (Cerita Kampung Lio).

Tujuan utama dari kunjungan kami adalah untuk validasi asumsi-asumsi masalah yang sudah kami susun. Awalnya kita mengira bahwa tidak adanya akses listrik adalah masalah utama dikampung Lio, akan tetapi ternyata bukan hanya listrik saja yang menjadi masalah. Susahnya air bersih dan toilet yang kurang layak juga menjadi masalah baru. Padahal ketika Palapa HME ITB terakhir berkunjung ke sana air tidak menjadi masalah yang cukup berarti. Hal ini berubah sejak musim kemarau ketika masyarakat  lebih memprioritaskan air untuk pengairan sawah sehingga terpaksa memutus pipa aliran air ke rumah warga.

 

Selain melakukan validasi masalah, kami juga mengamati potensi apa saja yang bisa dimaksimalkan dari kampung Lio yang tujuannya adalah menaikan pendapatan perkapita warga disana. Kami melakukan observasi disekitar kampung lio, sumber daya alam apa saja yang terdapat disana, apa saja mata pencaharian mereka. Selain observasi, kami juga berdiskusi dengan beberapa warga desa untuk memperbanyak informasi dan data terkait kampung Lio.

Sebenarnya sudah beberaapa sumber listrik di Kampung Lio yaitu pembangkit listrik kincir air yang memanfaatkan aliran sungai dan juga pembangkit listrik tenaga surya untuk lampu jalan. Akan tetapi dua pembangkit listrik tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Satu-satunya sumber listrik dikampung Lio yang dapat diharapkan adalah hasil swadaya warga yang menarik kabel listrik dari desa tetangga.

Sebenarnya saat kita kesana sudah ada beberapa tiang listrik yang sudah berdiri yang baru dipasang awal bulan Oktober 2017 tetapi baru sebatas tiang listrik saja, belum kabel dan kWhmeter di setiap rumah. Untuk melanjutkan proses itu para warga diharuskan membayar sejumlah uang untuk proses instalasi listrik PLN. Menurut pengakuan salah seorang warga, sebenarnya mereka tidak mempermasalahkan jumlah uang yang harus dibayarkan asalkan listrik segera dialirkan ke kampung mereka. Permasalahan yang terjadi berulang kali adalah masyarakat desa tidak mau membayar di muka untuk pengadaan ini karena takut prosesnya lama setelah pembayaran. Warga akan bersedia membayar jika sudah dipasang semua atau ada kepastian pemasangan yang cepat.

Hari kedua di Kampung Lio, kami memutuskan untuk mengikuti Pak Okay dan kawan-kawanya untuk memasang pipa dari atas bukit untuk mengalirkan air bersih ke kampung lio, sehingga mereka tidak perlu lagi mengambil air ke mata air yang cukup jauh setiap harinya. Kami sempat ragu apakah pipa tersebut bisa mengalirkan air dari atas bukit menuju kampung lio yang secara lokasi sebenarnya bukit sumber air dan kampung lio pada posisi yang hampir sejajar sama tingginya.

Karena waktu yang sudah menginjak pukul 12 siang kami memutuskan untuk beres-beres dan bersiap untuk kembali ke Bandung. Jadi kami belum sempat menyaksikan apakah pipa tersebut mampu mengalirkan air atau tidak. Sebelum pulang kami menyempatkan untuk mandi disalah satu kolam yang menjadi sumber air juga di Kampung Lio yaitu mata air Cisoli, begitu warga menyebutnya.

 

Adi Purnomo
Sustainable Energy Movement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *