Edukasi EBT Tahap Dua ke Pondok Pesantren Modern Al-Umanaa

SUKABUMI – Pada tanggal 13 Juni 2017 tim Sustainable Energy Movement (SEM) memberikan materi edukasi kedua kepada Santri-Santri Pesantren Modern Al-Umanaa. Materi kali ini merupakan materi edukasi lanjutan mengenai energi baru & terbarukan di Indonesia, melanjutkan materi sebelumnya tentang pengenalan energi baru & terbarukan. Materi ini mencakup tentang kondisi saat ini, potensi, dan permasalahan energi baru & terbarukan di Indonesia. Sesi pertama merupakan pemaparan materi tentang permasalahan energi baru & terbarukan, potensi sumber daya di seluruh Indonesia, serta rencana pengembangan pemerintah untuk EBT (Energi baru & terbarukan). Sasaran utama tim kami adalah agar membuka mata dan ketertarikan minat para santri tentang seberapa besarnya potensi energi baru & terbarukan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat di Indonesia. Sesi kedua tim kami menyampaikan tentang cerita-cerita kesuksesan dalam penerapan teknologi energi baru & terbarukan di Indonesia. Tempat yang kami jadikan percontohan diantaranya ialah Sumba yang akan dijadikan tempat dengan konsumsi 100% energi baru & terbarukan, serta beberapa tempat lainnya seperti Kupang dan Bantul.

 

Sesi Pemaparan Materi Potensi dan Permasalahan EBT di Indonesia (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Sesi ketiga merupakan sesi tanya jawab antara para santri dengan tim SEM, pada sesi ini muncul beberapa pertanyaan menarik dari para santri. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sesi ketiga ini ada yang unik seperti “Apakah salju dapat digunakan sebagai sumber energi?”, serta pertanyaan yang sangat rinci seperti “Bagaimana cara pembangkit listrik tenaga laut bekerja? Berapa kapasitas maksimal pembangkit listrik tenaga angin dan bagaimana cara perhitungannya?”. Adapula contoh menarik yang disampaikan tim SEM seperti pembangkit listrik tenaga sapi, dengan memanfaatkan pergerakan sapi yang diberi makanan secara berkala.

Pertanyaan dari seorang santri Al-Umanaa (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Sesi tanya jawab antar santri dengan tim SEM (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Sesi selanjutnya di sesi keempat dilanjutkan dengan Focus Group Discussion. Case pada FGD ini merupakan contoh kasus PLTS di Desa Bangli (Bali) yang tidak beroperasi secara maksimal dan tidak terawat pada tahun 2015, padahal PLTS 1 MWp sudah dibangun dari tahun 2013. Pertanyaan untuk Case ini ialah “Bagaimana cara menanggulangi permasalahan yang ada, serta cara berkontribusi aktif di setiap sektor?”.  Para santri laki-laki dan perempuan masing-masing dibagi menjadi enam kelompok, dan setiap kelompok mendapatkan perannya masing-masing yang terdiri dari kementrian ESDM, pemerintah daerah, konsultan swasta, PLN, komunitas, dan masyarakat. Setiap kelompok diharapkan mendapatkan kontribusi peran aktifnya masing-masing. Kemudian perwakilan tiap kelompok diambil untuk diskusi sinergi dari keenam sektor tersebut. Diskusi berjalan dengan hangat dan lancar dengan paparan-paparan yang konkret dari para santri, serta dilengkapi dengan canda tawa. Diakhir sesi satu perwakilan dari santri laki-laki dan perempuan diminta untuk mempresentasikan kesimpulan diskusi FGD yang telah dilaksanakan. Harapan kami dari sesi ini, para santri paham pentingnya peran dari setiap sektor dan bagaimana alur kerjasama antara tiap sektor. Sesi ditutup dengan kesimpulan akhir dari tim SEM yang mengatakan bahwa perkembangan EBT dapat berjalan lancar sesuai rencana apabila terjadi sinergi dan kolaborasi aktif dari setiap sektor untuk memajukan EBT di Indonesia.

Sesi Focus Group Discussion (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Presentasi kesimpulan Focus Group Discussion (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Rencana kami di pertemuan selanjutnya akan memberikan ilmu konkret tentang pola hidup hemat energi. Serta hal yang tidak kalah menarik adalah proses instalasi teknologi yang kami rancang ke Pondok Pesantren Al-Umanaa. Ikuti cerita kami selanjutnya di Bulan Agustus!

 

15/6/2017
Rizky Ambardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *