Konservasi Energi sebagai Upaya Penyelamatan Lingkungan

Sepanjang sejarah perdaban, manusia telah mengubah lanskap sesuai dengan bayangan idealnya, yakni keadaan yang diinginkan dan bukan keadaan nyata yang sedang dihadapinya. Dalam kehidupan bermasyarakat, pandangan utopis manusia terhadap lingkungan secara langsung maupun tidak langsung telah mengubah sistem lingkungan dalam suatu keterkaitan yang kompleks. Elsworth Huntington dalam studinya mengenai Teori Klimatologi menjelaskan keterkaitan ini tidak hanya berupa ketergantungan antara manusia dengan lingkungan, namun juga dalam pembentukan kebudayaan. Pandangan seberapa jauh dan bagaimana cara kebudayaan manusia dibentuk oleh kondisi lingkungan dikenal dengan antropogeografis. Walaupun terdapat pula pandangan posibilis yang menyatakan bahwa lingkungan bukanlah sebab melainkan pembatas maupun penyeleksi dalam pembentukan kebudayaan manusia. Misalnya dalam suatu sistem pertanian, manusia melakukan intervensi dengan mengubah komposisi penyusun sistem dengan mengganti variabel pengganggu dengan variabel lainnya yang dianggap lebih menguntungkan. Ketika lingkungan memberikan reaksi, manusia akan merespon dan mengubah budaya bertani masyarakat. Dapat dikatakan bahwa skala dan lingkup interaksi antara manusia dengan lingkungannya selalu terjadi paralel, meskipun terdapat berbagai sudut pandang mengenai posisi dan perannya dalam mempengaruhi suatu ekosistem.

Sebelum pertengahan 1960-an, kata ekologi hanya digunakan oleh peneliti dalam bidang terkait seperti biologi, geografi, dan sebagainya. Namun kemudian kata ini mulai kerap didengungkan oleh pegiat lingkungan yang menyadari akan destruksi yang massif teradi pada lingkungan. Degradasi lingkungan pada umumnya disebabkan oleh empat faktor utama yaitu peningkatan secara signifikan jumlah populasi, peningkatan konsumsi per kapita, kemutakhiran teknologi, dan percepatan laju urbanisasi. Menyadari pentingnya adaptasi terhadap perubahan lingkungan, para peneliti dan pemangku kepentingan mulai berlomba-lomba melakukan studi ekologi yang dilakukan untuk menyelidiki ketergantungan antara kelompok organisme hidup yang merupakan suatu komunitas dengan keadaan alam yang bersangkutan dalam suatu ekosistem. Hal ini diupayakan untuk dapat memberikan rekomendasi pengelolaan lingkungan yang paling tepat.

Persoalan lingkungan seperti kadar polutan yang tinggi di udara dan air merupakan isu global yang berusaha diatasi oleh negara-negara dunia diawali dengan adanya Environmental Policy Act pada tahun 1970. Penggunaan bahan bakar fosil memberikan kontribusi lebih dari 50% gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim global. Maka salah satu upaya logis untuk meningkatkan kualitas lingkungan adalah memanfaatkan dan mengelola energi dengan bijaksana. Selain itu bahan bakar fosil kurang dapat diandalkan karena dapat habis pada suatu hari saat sumberdayanya sudah menipis. Hal ini mulai disadari masyarakat dunia semenja krisis minyak bumi pada tahun 1973-1974. Pada masa ini, pertama kali Amerika Serikat sebagai kekuatakan ekonomi dunia memikirkan gambaran energi secara total.

Selama beberapa tahun terakhir telah terjadi fluktuasi harga bahan bakar fosil akibat kondisi ekonomi global maupun kondisi politik dunia. Negara-negara pun mulai melakukan upaya untuk mengurangi kapasitas produksi kumulatif minyak bumi. Harga yang tidak stabil ketika kondisi sumberdaya tidak terbarukan ini menjadi langka membuat energi yang berasal dari sumberdaya yang terbarukan menjadi lebih menarik untuk dikembangkan. Usaha konservasi energi terus digalakkan untuk menghemat biaya. Komponen energi sebagai bagian yang penting dalam kehidupan manusia masa kini, merupakan tantangan yang kompleks dalam pengelolaan lingkungan.

Energi terbarukan merupakan suatu jalan keluar dari persoalan ini karena selain bersumber dari sumber daya yang terbarukan dengan suplai tidak terbatas namun juga cenderung lebih ramah lingkungan. Energi terbarukan berasal dari sumberdaya alam seperti cahaya matahari, angin, atau air. Analisis sumberdaya energi dilakukan berdasarkan ketersediaan dan akses terhadap energi terbarukan. Hal ini terkait dengan keseimbangan energi nasional, jenis sumberdaya energi yang dimiliki, perkiraan tren permintaan dan penawaran, sumberdaya energi yang diimpor, dan tingkatan akses terhadap energi primer maupun sekunder. Potensi sumberdaya energi dapat dilihat secara teknis maupun secara ekonomis. Ketersediaan energi terbarukan dipetakan sesuai dengan pilihan yang dimiliki pada suatu wilayah seperti bioenergi, panas bumi, air, matahari, atau angina kemudian disesuaikan dengan ketersediaan teknologi yang dibangun.

Infrastruktur yang dimaksudkan dalam upaya penyelamatan lingkungan adalah termasuk jalan, rel, laut, telekomunikasi, pembangkit energi listrik, infrastruktur energi yang tersedia berupa kemampuan untuk integrasi dengan sumber energi grid lainnya. Pasar adalah harga yang ditentukan untuk energi primer maupun sekunder, laju adopsi terhadap teknologi energi terbarukan, tren harga dan perkiraan permintaan untuk energi terbarukan serta manajemen yang diterapkan. Dalam komponen pasar. rantai struktur pasar juga dipertimbangkan yang terdiri dari sumberdaya, instalasi, distribusi, operasi dan pengelolaan, serta pengguna. Selain itu juga melihat penjualan produk energi terbarukan dan pengaturan teknologi serta halangan maupun biaya dari resiko yang mungkin terjadi.

07/05/2017

Tania Benita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *